Minggu, 19 Juni 2011

APATIS

adjective
1. acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh: kita tidak boleh bersikap -- terhadap usaha pembangunan Pemerintah

hhmmmmmmmmmmmm kenapa mendadak aku jadi apatis gini ???

Jumat, 10 Juni 2011

Adikku Sayang

Adikku yang tersayang
Harapan ibu bapak di masa depan
Bila telah dewasa nanti
Jadilah engkau penyejuk hati

Senantiasalah mematuhi
Selalulah engkau berbakti
Pada kedua orang tua
Selama masih dalam kebenaran

Ibu bapak mengaishi kita
Sejak dalam kandungan
Sampai kini hingga ajal menjelang
Jangan pernah ada durhaka
Pada keduanya, selamanya

Doa orang tua dikabulkan oleh Tuhan
Ridho orang tua jua ridho Yang Kuasa
Ridho yang Kuasa

Ya Alloh ampuni mereka
Kasihanilah mereka
Seperti mereka sayang kami
Saat kecil dahulu...

-------------------------------------------------------------------------------------------------
adikku sebentar lagi masuk SMA, berkali-kali memintaku pulang. menemaninya, mengantarnya mencari sekolah baru. nilainya pas-pasan.. hmm, mbaknyya jadi bingung.. -_-

Sabtu, 14 Mei 2011

Kebijakan oh Kebijakan

Hey Bung. Mereka juga butuh makan. usahlah kau usir mereka Apa agar kau di anggap berprestasi?? tapi seenak perutmu sendiri kau buat mereka kelaparan

Apapun alasannya pokoknya saya tetap tidak setuju. dan saya termasuk orang-orang yang menentang keras itu para Pamong Praja yang seenak jidat mereka merampas hak orang lain. bukannya kebijakan itu di buat untuk kemakmuaran rakyatnya??? lantas dampak apa yang diberikan oleh keindahan tak bermakna seperti itu. kalau hanya menginginkan piala adipura. tapi rakyatmu mati kelaparan.
buat apa tata letak kota indah tapi untuk membeli satu helai kain saja rakyatmu tergopoh-gopoh kesusahan???
buat apa???
nanti kalau mereka menjadi pengemis jalanan kau usir juga.
hey, mereka itu bukan sampah masyarakat. saya akui mereka orang-orang hebat malah. lha gimana nggak hebat???
dulu waktu masih muda kau rampas hak mereka mengenyam pendidikan, ya karena apalagi kalau bukan karena kebijakanmu yang membuat mereka tak bisa membayar mahalnya biaya pendidikan di negeri sendiri. akhirya mereka untuk memutuskan mencari penghidupan dengan cara mereka sendiri. dan kau masih menganggap salah???

mereka itu manusia-manusia merdeka, karena tidak menggantungkan diri kepada orang lain.
memangnya kau mampu menyediakan mereka lapangan pekerjaan???
toh katanya di negeri ini yang bisa berkecimpung di dunia keja juga orang-ornag yang berpendidikan. dulu kau sudah merampas hak mereka bukan???
hak untuk mendapat pendidikan. dan sekarang kau rampas lagi hak mereka untuk hidup layak? ah miris sekali negeriku.

mbok ya kalau membuat kebijakan itu dipikir dulu. di analisis dulu. perekonomian rakyat sendiri dimatikan. nah sementara Mcd, Breadtalk, KFC, J-CO dan apa lah itu lain-lainya. kau dengan tangan lapang menerima mereka masuk. bahkan kau kira kalau sebuah kota tidak ada makanan seperti itu belum dikatakan maju. kalau seperti ini siapa yang bisa disalahkan???
mungkin PKL-PKL itu untuk menyewa kios saja tak mampu bung. makanya mereka berjualan sedapatnya tempat.
menurut saya selama tidak menggangu-menggangu amat. dipikirkan dulu manfaat dan mudhorotnya Bung,

kalau tidak punya solusi ya tidak usahlah kalian bertindak dengan alibi "ini sudah peraturan, sudah ada undang-undangnya"
peraturan itu kalau tidak baik tidak usah dipatuhi kali Bung, wong peraturan dibuat agar oarnag lain merasa nyaman dan mendapat hak mereka kok.

Contohnya saja nih di Sunmor (Sunday Morning) yang letaknya di Lembah UGM dan bukanya kalau minggu pagi. seperti ini nih baru namanya solusi. Pasar Minggu pagi ini biasanya jam 5 pagi PKL-PKL yang berjualan sudah mendasarkan dagangan mereka. Masyarakat Jogja juga sekali berbelanja disini, mungkin karena harganya relatif murah dan banyak piliha.
atau sepanjang jalanan di Malioboro, bukankan PKL-PKL yang membuat karakter Jogja kuat dengan Kesederhanaanya? malah mereka yang membuat suasana Malioboro menjadi hidup. Apa Sri Sultan mengusir mereka? Apa Jogja masih kurang berprestasi? dengan memberikan hak-hak rakyat kecil bukankah tidak menghalangi Jogja mengukir prestasi?

jadi Bung, Indah tidak sama dengan penggusuran

Sabtu, 07 Mei 2011

Fikih Wanita


Pengin punya buku ini, biar aku lebih tau lagi... bagaimana seharusnya wanita bersikap...

Selasa, 26 April 2011

Sahabat Sejati? Adakah?

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.


Bukan menghakimi teman-temanku nggak setia, nggak perhatian dan lain sebagainya sih. selama ini tidak ada teman yang nggak baik, semuanya baik hati. tapi yang aku herankan persahabatan kita itu ya cuma sebatas pada dimensi waktu yang kita lalui itu saja.
misalnya saja pada saat SD teman yang biasa rantang-runtung bareng ya paling cuma pas SD itu aja. toh kalau nanti satu SMP lagi kedekatan sudah tidak seperti dulu lagi. entah faktor x apa yang menyebabkannya.

sampai sekarang saja, teman saya satu SMA yang paling setia paling cuma Nopriza Umami. yang masih sering SMS, telpon, janjian chat. walaupun nggak pernah ketemu.
terus temen SMP, cuma Faya Reska Viandari saja yang masih setia mendengar keluh kesahku. bukan berarti njuk yang lain putus hubungan atau tali silaturahmi persahabatanku dengan teman yang lain terputus, cuma.. ya hanya orang itu yang masih intens berhubungan denganku. yang lain ya jarang-jarang lah. sesekali saja ada telepon masuk, dan aku tau. paling itu modal gratisan. hmm? masa aku di inget kalo ada gratisan aja jal? masih mending lah daripada kau yang tidak modal sama sekali.

dulu kemana-mana bareng, dari makan siang sampai makan malam. sekarang mengunjungi kota tempat tinggal masing-masing saja tidak mampir. bahkan satu kota saja tidak pernah bertemu.
tidak tau teman kuliahku nanti, ah paling juga sama. nanti kalau sudah berkutat dengan kehidupan baru masing-masing ya do sibuk dewe-dewe.
sudah berganti dimensi waktu perlahan sahabat hilang satu-persatu. tertinggal satu-persatu di stasiun yang kita lewati. entah kemana.
terus apa dong sahabat sejati? kalau dari namanya saja sejati, berarti kan ya selamanya ya? berarti yang ada hanya teman. masa ada bekas sahabat? ya nggak lah.
terus berarti ya teman, yang menemaniku melewati dimensi waktu yang perlahan terus berganti. dan berganti pula teman yang menemaniku. kecuali sahabat sejati

tapi aku beruntung Allah mempertemukan aku dengan kalian. yang senantiasa mengingatkan aku ketika datang khilafku. dan mensuport aku ketika datang malasku. dan siapapun yang akan menemani kita melewati waktu demi waktu. semoga kita dikumpulkan dengan orang-orang yang mendekatkan kita pada-Nya. dan dijauhkan dari orang-orang yang yang menjauhkan kita dari-Nya. ingat Al-Ashr

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Sabtu, 23 April 2011

3 Komoditi Paling Berharga

Mengulangi lagi kata-kata Pak Tatung, 3 komodoti yang paling berharga di dunia ini
1. Waktu
2. Kesehatan
3. Uang

perlu waktu unutk menyatakan diri setuju atau tidak
*direnungkan dulu nih*

Minggu, 10 April 2011

Enterpreneur Muda

Saya dan my twin memang hoby berjualan. Jualan apa saja, ya kalau ada yang pesan dan membutuhkan. Mulai dari Pulsa, Pakaian, sampai Makanan sekalipun. Tapi ternyata usaha saya belum bisa disebut wirausaha. Ya, saya belum bisa disebut Enterpreneur Muda. Salah satu syarat yang harus dipenuhi yang saya garis bawahi adalah mempunyai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup satu bulan tanpa suntikan dana dari orang tua.
Saya baru bisa berdagang, baru bisa berjualan.
Bahkan profit yang saya hasilkan paling-paling hanya bisa menopang kebutuhan saya selama satu minggu, pun itu hanya makan.
Tidak untuk yang lain-lainnya. Pernah saya punya ide gila sama teman-teman. Mau buka lapangan futsal. Prospeknya bagus, saingan baru satu. Anak muda disini banyak, bapak-bapak kantoran juga sekarang hoby futsal.
Kalo saya anaknya miliarder sih mau-mau saja patungan 250jt. Haha
Ah yang penting sekarang usaha, tidak usah memikirkan laba/rugi dulu.
Ini proses yang harus dijalani mungkin, ya kalaupun tidak progress-progress ya disyukuri saja. Mungkin belum waktunya

Kamis, 07 April 2011

Mblaur

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang terlalu cemas memikirkan yang akan datang, saya cenderung hidup pada hari ini. terkadang kalau lagi sharing sama temen-temen atau lagi membuat proposal hidup, Lagi-lagi saya terperanjat hebat kalau membuka kalender. sudah bulan April. sudah setengah semester juga saya menjalani semester ini. ya begini ini kalau tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, kuliah sudah semester 4 bahkan membuat neraca masih sering belum balance.

Pilihannya melanjutkan studi ke jurusan yang sama atau mau menjadi bagian dari pembentuk karakter bangsa yaitu menjadi pendidik. ah tapi saya tidak ada sense sama sekali. yang jelas saya tak mau terus-terusan membebani pundak orangtua karena saya belum mandiri.

Entahlah, belum ada rencana untuk kedepannya, lha saya sendiri belum ngerasain "feel"nya si. kesana pengen kesitu pengen, tapi mau tidak mau tahun depan saya harus angkat kaki dari sini.
sebenarnya si saya nggak pingin sih kayak orang kebanyakan, merantau cari ilmu.. pulang kampung... cari kerja... hah sepertinya kehidupan dari jaman nenek moyang seperti itu melulu. bahkan tidak sedikit yang menambah-nambahi beban negara saja, menjadi pengangguran berpendidikan.boro-boro menjadi bagian dari solusi, malah-malah menambah masalah yang sudah ada. kadang saya juga takut hanya menambah-nambahi angka itu dan menjadi bagian dari permasalahan bangsa. ada satu tipe lagi nih, yang membuat bangsa kita ini semakin miskin karena uangnya habis digunakan untuk membayar para karyawannya atau biasanya si orang-orang pada menyebutnya PNS. ribuan orang menginginkan ada disana. dengan alasan jaminan masa depan nyaman lah dan sebagainya. dan bahkan orangtua saya juga menginginkan anaknya disana.
Wallahu'alambishowab

Minggu, 03 April 2011

Trendsetter Barang Nggak Penting

Blocknote
Biasanya aku menyebutnya buku diariku. ada beberapa jenis sih sebenarnya, ada yang biasa kubuat mencatat utang teman-teman. sampai-sampai aku dan my twin (Santi Budi Utami) dijuluki debt collector alias rentenir.
terus yang biasa kugunakan mencatat notulen dan ilmu-ilmu yang kudapat dari berbagai kajian, diskusi, buku yang ku baca, seminar. ya pokoknya mencatat kata-kata motivasi apapun dan dari manapun.
ada juga yang kugunakan mencatat pengeluaran, (buku kas-ku). maklum lah orang akuntasi semua transaksi dicatat dan dibukukan sedemikian sehingga.
ternyata teman-teman cukup terinspirasi, haha.
beberapa teman-temanku sekarang juga menggunakan buku seperti yang kugunakan.



Syal
Syal yang pertama kubeli adalah syal warna ungu yang berpadu dengan putih. belinya di Malioboro, sebenarnya nggak sengaja. lagi lihat-lihat, waktu itu aku sedang menemani temannya si Em dari UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto) yang lagi study tour ke Jogja. eh ngomong-ngomong study tour, pertengahan bulan ini insya Allah aku juga ada visit company ke Semarang.
lagi-lagi ada juga yang terinspirasi dengan syal-ku, fungsinya memang bukan buat aksesoris fashion. tapi adalah sebagai penutup muka ketika berkendara dengan sepeda motor. beberapa orang teman juga ada yang cukup terinspirasi dan mengganti slayer penutup muka dengan syal. hehe




Antis
Antis adalah pencuci tangan tanpa air. biasanya kugunakan untuk adem-adem tangan. kan kadar alkoholnya tinggi tuh, jadi adem gitu. haha, nggak mutu.
pake antis bukan sok nggaya, sok bersih gitu. padahal yo kalo mau makan nggak mesti pake. ahihi, sekarang teman-temanku juga memakainya. ada beberapa yang memakai versi yang berbeda tapi maknanya sama sih.