Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2011

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya

Aku suka puisi ini, begitulah... bahwa hidup yang sekali ini harus bermakna.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua, 1972

Sabtu, 08 Januari 2011

Sepayah Ini

aku tunggu tetesan embun, ku hirup sampai tuntas;
bayangannya melompat-lompat bermain dalam fikiran, bermain dalam impian.

Sabtu, 01 Januari 2011

31 Desember 2010

Sore kemarin angin begitu kencang berhembus dari kejauhan, Membuat keseimbanganku hampir-hampir goyah
tapi tak menyurutkan langkah demi langkah yang sudah kadung kutapaki.
Aku menemukan sesuatu yang baru disini,
sejauh kulayangkan pandangan yang telihat hanyalah hamparan sawah yang sudah mulai menguning, mungkin sebentar lagi panen.
sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan desa ini.
hingga malam menjelang, kulanjutkan perjalanan melihat keadaan sekitar.
mungkin sudah beberapa kali aku ke tempat ini, masih saja terasa sungkan.
beberapa muda-mudi terlihat disini, tak mau kalah suami-istri dan anak-anaknyapun memenuhi tempat yang biasa disebut alun-alun.
Apa ini yang disebut perayaan? Semeriah inikah penyambutan datangnya tahun baru?
Langit malam ini bersahabat denganku, tak ada hujan yang biasanya Ia turunkan sore hari. tak ada yang membuatku basah kuyup.
Tapi juga tak ada bintang malam ini, nanti kalau sudah muncul cahaya di langit-Nya.
akan ku petikkan satu. dan kubagi cahayanya untukmu. kuuraikan satu persatu.
Kenapa mudah sekali hati ini terbolak-balik, aku ingin memaki diriku sendiri.
ku harap hanyalah emosi sesaat remaja labil yang belum stabil.

Jumat, 15 Januari 2010

Dari Dulu Sama Saja















Rasa-rasanya memutar balik arah sudah tak mungkin,

Apa harus aku lanjutkan perjalanan?
Walau tak jelas kemana tujuan?

Katakan padaku : Ini sudah terlalu jauh, kan?

Lagi-lagi aku dalam satu rasa bernama bimbang
Kemana lagi perahuku harus ku layar?
Sedang pelabuhanmu masih samar-samar

Ah...Nanti biar saja Allah yang pilihkan;
Kanda, atau bisa jadi bukan

Yogyakarta, Januari 2010

Sabtu, 02 Januari 2010

Pintaku..

Rabbi..
Pintaku tak banyak,
cukup satu saja
satuuu saja!

Cukupkan,
hanya itu yang aku inginkan
Cukupkan sehatku
Cukupkan rizkiku
Cukupkan saja

aku tak pinta lebiiih
cukup saja ya Alloh
karena bagiku merasa cukup itu begitu sulit

ada saja yang kurang
ada saja rasa tak puas
ada saja kufur itu

aku ingin jadi mahluk;
yang pandai bersyukur

Sabtu, 15 Agustus 2009

Ku Tak Mau Tertinggal

Kulari secepat-cepatnya,
Tapi kalah lagi
Kumendarat di atas kepala,
Padahal seharusnya di kaki
Aku berjuang ke depan
Tapi tertahan di belakang
Mengapa terus kulakukan?
Sebab ku tak mau tertinggal

Semakin keras kujatuh,
Semakin tinggi ku kan memantul
Kukerahkan segalanya,
Dan itulah yang terpenting
Di tempat pertama,
diriku jarang berada
Jadi aku berusaha sekuatnya
Ku tak mau tertinggal

Sebagian mengatakan aku tak bisa,
Sebagian mengatakan jangan
Sebagian menyerah,
Jawabku, TIDAK

Semua daya ada di sini,
Tersembunyi dalam pikiranku
Keuletanku, itulah keunggulanku,
Ku tak mau tertinggal

Lakukan yang terbaik setiap saat,
Masa depan segera jadi masa silam
Semakin kukatakan ini,
Semakin jarang aku menjadi yang terakhir
Sepanjang aku bertanding,
Ku belajar arti kemenangan
Satu pelajaran sederhana
Mengalah itu jalan termudah

Maka setiap aku bangun tidur,
Kuharap dalam hal kecil aku berhasil
Esok hari baru,
Ku tak akan tertinggal


-Sara Nachtman-