------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lalu, kalian akan menikahi pujaan hati kalian dan mengayuh biduk
kecil kalian, perlahan menjauhi kami, Mama dan Papa. Di situlah mungkin
Mama akan mempertaruhkan rasa keikhlasan Mama. Karena Mama juga manusia
biasa.
Masa iya, setelah susah payah merangkai kalian hingga suatu hari
menjadi sehebat yang kalian bisa, Mama bisa santai-santai saja ketika
tiba saatnya harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi jika
ternyata, perempuan itu berbeda dengan yang Mama harapkan.
Di titik inilah, Mama akhirnya sadar, “Apa yang kau tanam itu yang
kau tuai.” Mama harus pandai-pandai mempersiapkan diri. Dimulai dengan
menjalin hubungan baik dengan Oma kalian, Mamanya papa. Mungkin semua
kekhawatiran mama masih dalam angan-angan, sementara Oma sudah harus
berhadapan langsung dengan kenyataan itu… sekarang.
Dear son, walau sedari sekarang Mama berusaha keras memupuk rasa
ikhlas dan mempersiapkan diri jika saatnya kalian berlayar di dunia
kalian masing-masing, sadarilah. Mungkin di saat itu, sekali-sekali Mama
akan cemburu atau iri. Sekali lagi, Mama manusia biasa :).
But I’ll do my best ;). Untuk membiarkan kalian menjadi yang
kalian mau, memilih jodoh yang kalian inginkan, mengikhlaskan apa pun
jalan yang kalian pilih, semata-mata karena cinta. Yang konon katanya,
“Cinta itu berarti sanggup melihat orang yang kita cintai bahagia walau
kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”
Tapi Mama yakin. Cinta kita, antara Mama dan kalian, selamanya akan
memiliki tempat khusus di hati kita masing-masing. Tempat yang tidak
akan terganggu walau kita tak akan bersama dalam satu atap lagi. Suatu
hari nanti.
Kalau pun tak mungkin membawa serta Mama ke mana pun kalian melangkah
nanti, tapi Mama harap kalian tak pernah lupa merapalkan nama Mama
dalam doa-doa kalian. Bahkan sampai ketika nanti Mama tak ada di dunia
lagi. Semoga Mama tetap bergema dalam hati kalian.
Dear Son, pada akhirnya Mama mengambil kesimpulan bahwa membesarkan
kalian seperti merawat seekor kupu-kupu. Pas sekali dengan lirik lagu
Tante Mariah Carey yang satu ini, ”
Butterfly.”
Butuh energi lebih untuk membesarkan kalian dari seekor ulat hingga
bersayap sempurna. Untuk akhirnya … terbang dan pergi melanglang buana.
Itulah yang memang seharusnya kalian lakukan. Pergilah sejauh yang
kalian bisa. Mama sendiri sangat bahagia bisa mendapat kesempatan
tinggal di berbagai tempat.
My son, pengalaman adalah harta tak ternilai yang harus kalian perjuangkan hingga sejauh mana sayap kalian mampu menerbangkan kalian.
Fly my son(s), fly away my butterflies, fly abandonedly into the sun :).
Adapun Mama akan tetap menjadi Mama di mana pun kalian nanti berada.
Sejauh apa pun jarak yang nanti terbentang diantara kita. Selamanya akan
mencintai kalian, sebesar yang Mama bisa.
Now I understand to hold you
I must open up my hands
and watch you …
Spread your wings and prepare to fly
For you have become a butterfly
Fly abandonedly into the sun
(Butterfly, Mariah Carey)
Note : artikel ini saya ambil dari forum
theurbanmama tulisan mbak Jihan Davincka
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dua bulan yang lalu, mamah (calon mertua red) belum mengijinkan kami
menikah, entah angin apa yang menggetarkan hati mamah sehingga tiba-tiba
menyetujui keinginan kami untuk menikah muda. mungkin karena melihat
keseriusan anaknya atau entah apa. sujud syukur pada-Mu ya Allah untuk
restu yang dikucurkan kedua orangtuanya saat ini.
Membaca
artikel the urban mama yang membahas tentang perasaan seorang wanita
terhadap anak laki-lakinya, sontak hatiku remuk betapa saya tidak peka
terhadap perasaan Mamah, wanita yang melahirkannya, menyusui,
membesarkan dan mendidik calon imamku hingga seperti ini.
Dear
Mamah, aku bukan hendak merebut cinta anakmu untuk kemudian menjauhimu.
mungkin engkau akan merasa sedih, ketika anakmu nanti akan membagi
cintanya denganku, perhatian dan cintanya harus dibagi menjadi dua,
antara aku dan Mamah.
Ketika sudah menikah nanti, Mamah lebih
berhak atasnya dari pada aku. bagaimanapun, surga seorang anak ada pada
Ibunya. Tapi Mamah, ijinkanlah aku mengabdikan diriku pada anakmu,
karena disitulah jalanku menuju Surga, kuyakini engkau telah mendidiknya
dengan baik, aku tau dia akan menuntutku baik dengan merangkak, berjalan dan bahkan berlari, aku tau jalan
menuju Surga-lah yang akan anakmu tunjukkan untukku dan keluarga kecil
kami nanti.
Dear Mamah, bukankah laki-laki yang hebat ada dua orang wanita hebat dibelakangnya? semoga kita nanti tidak akan berseteru memperebutkan cintanya, karena yang harus kita lakukan adalah mendukung dengan penuh cinta terhadap dirinya, merapalkan namanya dalam setiap do'a kita. meskipun nanti kita akan tinggal berjauhan, dalam do'a kita akan selalu dipertemukan.
Dear Mamah, aku sering mendengar kisah perseteruan menantu dan mertuanya perihal berebut perhatian, semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang demikian. seharusnya mereka sadar, anak laki-laki adalah hak ibunya, bukan istrinya. kalaupun itu terjadi, bukankah berarti dia sedang mengajarkan anak-anak mereka untuk berbakti kepada ibunya nanti?
Dear Mamah, aku ingin menikah dengannya bukan untuk merebut cintanya darimu. kami hanya tak ingin engkau juga menanggung dosa kami apabila kami terjerembab dalam hubungan yang belum halal. sungguh, aku tak akan menghalanginya untuk membahagiakanmu, karena kebahagiaanmu adalah juga kebahagiaanku.
Terimakasih tak terhingga untuk wanita hebat yang sudah membesarkan calon imamku, aku akan mencintaimu pula sebagaimana dia mencintai ibunya.
Much Love,
Your daughter in law to be
------------------------------------------------------------------------------------------------------