Kamis, 25 Februari 2010
Ada apa di DEPAG ?
Yang mendaftar setiap tahun sekitar 200.000 (dua ratus ribu)jamaah
Hitungan pertahun yang bisa saya jabarkan kira-kira begini
200.000 (dua ratus ribu) jamaah X 20.000.000 (dua puluh juta) uang yang disetorkan jamaah = 4.000.000.000.000(Empat triliun)
dana tersebut sudah pasti disimpan di bank & tidak mungkin bank tidak mengedarkan uang tersebut. Nah kalau beredar berarti sudah bisa dipastikan juga, DEPAG Mendapat bunga dari bank.
Katakanlah bunga yang diberikan sebanyak 1% perbulan.
Maka angka dari bunga yang diperoleh adalah 40.000.000.000 (empat puluh miliard)
Itu hitungan bunga perbulan, belum satu tahun. Dalam 1 tahun, ya tinggal di kalikan 12 saja. Sekitar 480.000.000.000 (empat ratus delapan puluh miliard)/tahun
Waow, mengejutkan.
***
PERHATIAN. TULISAN INI TIDAK BERMAKSUD MENYINGGUNG, MEMPROTES ATAUPUN MENJATUHKAN NAMA BAIK PIHAK MANAPUN JADI JANGAN MEMENJARAKAN SAYA KARENA TULISAN INI YA... ^ ^
Selasa, 23 Februari 2010
K.O.S.O.N.G
Kalau biasanya hanya mendengar, sekarang aku merasakannya. Benar-benar merasakannya.
#
Kosong
#
Mati rasa
ah apalah itu namanya?
Yang aku ingin sekarang
Mengeluarkan segala yang berkecamuk di dalam hati
Yang aku ingin sekarang
mengeluarkan racun-racun yang aku takut kalau menjalar, aku kehilangan gairah hidupku
#
Yang aku bisa
hanya berharap Kau memberiku ketenangan hati
#
Aku rindu
Rindu bercerita pada-Mu di sujud panjangku
#
KOSONG
Minggu, 21 Februari 2010
Tak Mengapa
Malam telan cahaya;tak mengapa asal kau sinari cintamu
Mimpi buruk menyapa;tak mengapa asal kau ada disampingku
Tiada pernah berjumpa;tak mengapa asal kau ada di khayalku
*) Song Lyrics : Arti Hadirmu, Audy.
Sudahlah
jiaaahh...aku iri...
apalagi usaha yang harus aku lakukan??
Kadang aku kesal dengan ejekan teman-teman
hehe, cuma kesal bercanda kok nggak beneran
diledek menderita HIV
cacingan
busung lapar
TBC
ato penyakit-penyakit lainnya, buat aku sudah menjadi makanan sehari-hari
Tapi ya aku tau, mereka cuma guyonan
dan aku juga nggak pernah sakit hati atau tersinggung dengan olokan-olokan seperti itu
di rumah juga pada protes semua.. Nggak orang tua, kakak-adik, bu lik, pak lik, bu dhe, pak dhe bahkan nenek
ya aku sendiri juga nggak tau kenapa sekarang aku kurus kering seperti ini
masukan-masukan dari orang-orang juga sudah aku usahakan
mulai dari minum susu instant
susu perah asli
jamu tradisional pahitan
telor ayam kampung
penambah nafsu makan
sari kurma
obat cacing
minyak ikan
semuanya sudah aku coba
tapi hasilnya NOL besar
kemarin waktu milad mas faisal ngasih brownies gede banget
katanya : "biar dd gendut"
kemaren juga ada temen ngomong gini : "li, tak kasih coklat tapi bukan buat hari kasih sayang, biar berat badanmu naik. Hahaha"
ah sudahlah aku nggak mau mempersoalkan berat badan lagi
biar aku kurus kering begini
yang penting aku sehat
yang penting aku kuat
Thank you Allah... Atas nikmat sehat yang tiada tara ini...
Mungkin Nanti
pergi dari satu kota menuju kota yang lain
aku suka perjalanan lengkap dengan pemandangan indah.. Lampu-lampu di jalan, awan biru damai di langit, sawah hijau permai. Maka dari itu aku setuju dengan slogan 'gemah ripah loh jinawi' untuk negara kita. Tapi di beberapa kota, slogan tersebut tidak berlaku karena pencemaran lingkungan yang terjadi.
Kadang terbesit keinginan untuk travelling dengan jarak yang lebih jauh, yang lebih banyak lagi tantangan.
Ah tapi itu tidak mungkin untuk saat ini!
Tidak mungkin aku mendapat ijin dari orang tuaku.
Tidak mungkin aku mampu menghadapi orang-orang 'rese' di jalanan.
Tidak mungkin aku punya waktu luang segitu banyak.
Dan tidak mungkin juga aku mendapat dana yang segitu banyak juga.
Hah, mungkin nanti.
Kalau aku sudah tidak lagi menyandang status single. Aku harap suamiku mau aku ajak melihat kehebatan-Nya dengan menjekakan kaki ke tempat yang belum pernah aku singgahi. Dan semoga kita juga mampu menjejakan kaki di dua kota hebat itu, Mekkah dan Madinah untuk melaksanakan rukun islam yang terakhir. Amiin...
Sabtu, 20 Februari 2010
Kamis, 18 Februari 2010
Budaya Membaca dan Perpustakaan yang Representatif?

Membaca merupakan budaya yang kurang membumi di negeri ini. Dilihat dengan parameter manapun, budaya membaca tenggelam dibandingkan budaya menonton. Hegemoni televisi terhadap masyarakat semakin jelas terlihat ketika industri pertelevisisan mulai berkembang tahun 90-an. Sedangkan industri perbukuan bertahan dengan carut marut dunianya sendiri dengan berbagai kendala penerbitan.
Banyak manfaat yang ditawarkan ketika kita rajin membaca buku. Seseorang dapat memperdalam pengetahuannya sehingga ia lebih peka, kritis, dan terbiasa berfikir sistematis dalam menangkap gejala sosial.
Namun pola pikir seperti itu tidak akan terbentuk jika tidak didukung oleh berbagai ragam bacaan. Berbagai tips yang menawarkan bagaimana menumbuhkan minat baca banyak bermunculan. Tapi yang menjadi soal adalah ketika minat baca yang telah tumbuh, terkendala oleh mahalnya buku.
Di sisi lain, jika hendak mengandalkan perpustakaan, buku-bukunya sering tidak update. Atensi masyarakat terhadap perpustakaan pun tidak sebesar terhadap televisi. Dengan televisi, tinggal pencet tombol dan langsung bisa menikmati sajian yang beragam. Sedangkan jika ingin ke perpustakaan harus pergi ke sekolah, atau pusat kota untuk berkunjung ke perpustakaan daerah dan itupun seringkali tidak terpuaskan. Tidak ada perpustakaan yang memadai di lingkungan sekitar menyebabkan makin mewabahnya virus malas dalam membaca.
Perpustakaan merupakan hal yang begitu krusial ketika kita dihadapkan dengan harga buku yang mahal. Institusi seperti sekolah ataupun perguruan tinggi sudah selayaknya mempunyai perpustakaan yang representatif dalam pemenuhan kebutuhan membaca.
Hal tersebut tak ditemui di Universitas Negeri Yogyakarta yang di tahun 2009 menggembor-gemborkan diri sebagai World Class University. Bila dibandingkan dengan perpustakaan di dua perguruan tinggi negeri di Jogja (baca : UGM dan UIN), UNY kalah jauh.
Dengan masalah yang beragam seperti tidak sesuainya katalog online dengan buku yang ada di rak, kurang komplitnya buku hinga pelayanan yang kurang memuaskan dari para penjaga. Penjaga-penjaga yang tidak ramah turut mendorong malasnya mahasiswa untuk datang berkunjung, mahasiswa seringkali datang jikalau ada tugas saja selain untuk kepentingan itu mahasiswa jarang datang. Dengan tampang muka sangar dan kurang senyum dari penjaga perpustakaan, sudah membuat orang yang akan berkunjung mengurungkan niatnya.
Sedang Belajar Seperti Itu...
Saya sedang belajar seperti itu, seperti Baso dalam novel N5M yang selalu bisa mebuat apapun yang terjadi menjadi nyaman. Ya karena itu tadi, dia bisa mengambil sisi positif dari setiap kejadian. Bahkan bencana sekalipun. Siang tadi seorang kawan bilang padaku “Raimu ki lho yak, ayem tenan” artinya kira-kira seperti ini : ekspresi yang dipancarkanku itu tenang. Entah aku salah persepsi atau tidak, yang saya tangkap seperti itu. Pembicaraan tersebut terjadi di kelas, karena dosen pengampu mata kuliah Aplikasi Komputer yang ‘killer’.
Saya sedang belajar seperti itu, Seperti Mbak Rara yang selalu tawadzun. Semester ini mungkin saya harus belajar lebih keras karena dosen pengampu ‘sangar-sangar’, 25SKS banyak praktek. Oh no, artinya tidak ada waktu yang bisa digunakan untuk hanya sekedar “main-main” apalagi sekarang saya juga harus membagi lagi 24 jam waktu yang Allah berikan untuk HIMA, UKKI Al-Mujaddid, KAMMI, mungkin juga FOSMA ESQ (Insyaallah).
Saya sedang belajar seperti itu, seperti Pak Gunardo yang mampu terlepas dari suntikan ekonomi keluarga saat statusnya masih single dan masih menjadi mahasiswa. Tapi saya bingung, Selain usaha kecil-kecilan yang saya lakukan sekarang. Saya harus apalagi?
Saya sedang belajar seperti itu, saperti para aktivis lingkungan yang memperjuangkan bumi ini untuk anak cucu kita kelak. Walaupun sampai sekarang saya belum bisa melakukan lebih dari ‘berusaha membuang sampah pada tempatnya’.
Saya sedang belajar bahkan memaksakan diri...
Memaksakan diri agar mampu menjadi orang yang bisa mengambil sisi positif dari setiap kejadian.
Saya sedang belajar, bahkan memaksakan diri...
Memaksakan diri agar mampu menjadi pelajar yang juga peduli dengan teman lain dan masyarakat.
Saya sedang belajar, bahkan memaksakan diri...
Memaksakan diri agar mampu menjadi manusia yang mandiri juga merdeka.
Saya sedang belajar bahkan memaksakan diri...
Memaksakan diri agar mampu menjadi mahluk yang peduli terhadap lingkungannya yang semakin hari semakin parah.
Saya sedang belajar, bahkan memaksakan diri...
Memaksakan diri agar MENJADI LEBIH BAIK.
Senin, 15 Februari 2010
Negeri 5 Menara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia
Jumlah Halaman : 432 Halaman
Harga : Rp.50.000
Ibarat sedang berada di hamparan padang pasir yang gersang.. negeri 5 menara hadir bagai penawar rasa haus yang mampu memberikan kita enegi untuk terus melangkah dalam kehidupan ini. Untaian kata-kata ajaib dalam buku ini juga mampu mensuplai asupan gizi dalam otak kita. Alif, seorang anak yang patuh terhadap ibunya, awalnya dia hanya terpaksa masuk ke pondok. Sampai dia bertemu dengan sahibul menara, kawan dekatnya di Pondok Madani. Masing-masing dari mereka punya kekurangan dan kelebihan sendiri, termasuk juga Alif. Dengan bermottokan “Man Jadda Wajada” Mereka berlari mengejar apa yang mereka impikan. Menurut saya, novel ini malah lebih inspiratif daripada novel inspiratif sebelumnya yang menceritakan kehidupan sekawanan anak-anak dalam mengenyam pendidikan di Belitong sana. Karena dalam negeri 5 menara lebih ada sentuhan nilai islam dan memang disini menceritakan kehidupan di Pondok Modern Gontor di pelosok Ponorogo. Hingga sayapun sekarang juga mempunyai motto hidup Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Membaca negeri 5 menara, bagi saya adalah seperti kebanjiran kepingan-kepingan semangat, bahkan sekarang saya bagai dibom oleh semangat yang berkobar-kobar. Hmm, saya jamin anda tidak bakal rugi jika mebacanya. Selamat membaca ^ ^